Pergi ke Menu Pergi ke Halaman Utama
Go Top

Budaya

Ayah Penangkap Kupu-Kupu – Hyeon Deok

#Sudut Sastra Korea l 2022-10-21

Sudut Sastra Korea

ⓒ Getty Images Bank

Beberapa waktu yang lalu, Gyeong-hwan pulang dari Seoul untuk melewati liburan musim panasnya. Yang berbeda darinya hanyalah kulit wajahnya yang lebih putih dan pakaiannya yang bagus – celana panjang berkaki lebar dan topi dengan pinggiran berwarna putih. Gyeong-hwan memamerkan betapa bagusnya kota Seoul dan betapa hebatnya sekolahnya. Ia bercerita tentang artis-artis film, menyanyikan lagu pop yang norak, dan mencoba menangkap kupu-kupu diikuti oleh anak-anak desa. Ba-u tidak suka melihat semua itu.


- Cuplikan program:



“Hei, kamu tidak punya mata, ya?! Apa kamu tidak peduli, merusak hasil ladang orang lain?”


“Memangnya kenapa kalau aku menginjak-injak tanah keluargaku sendiri?”


“Tanah keluargamu? Biarpun tanah ini milik keluargamu, melon itu milik keluargaku! Kamu merusak melon keluargaku!”


“Kalau kamu tahu betapa berharganya melon keluargamu itu, mengapa kamu menghalangiku menangkap kupu-kupu itu? Aku, kan, menangkap kupu-kupu itu bukan hanya untuk sekedar bermain.”


“Kalaupun kamu menangkap kupu-kupu itu bukan untuk sekedar bermain, melon itu untuk dijual dan membeli makanan keluargaku. Memangnya kupu-kupumu itu lebih penting daripada makanan untuk keluargaku?”


“Nilai sekolahku tergantung dari kupu-kupu itu. Untuk apa aku peduli dengan urusan keluargamu?”


“Apa katamu? Karena itu kamu merusak ladang melon keluargaku? Memangnya tidak ada ladang melon lain yang bisa kamu hancurkan?”


“인마, 눈 없어!  넌 남의 집 농사 결딴내두 상관없니?” 


“우리 집 땅 내가 밟았기로 무슨 상관이야?” 


“우리 집 땅?

 땅은 너이 집 거라두 참외 넝쿨은 우리 집 거잖아.

 우리 집 참외 넝쿨을 결딴내니까 그렇지”


“너이 집 참외 넝쿨은 그렇게 소중히 알면서,

 어째 남의 나비 잡는 건 훼방을 놓는 거냐? 나두 장난으로 잡는 건 아냐” 


“장난이 아닌지도 몰라도 넌 나비를 잡는 거고

 우리 집 참외 넝쿨은 거기서 양식도 팔고 그래야 헐 것이거든.

 그래, 나비가 중하냐, 사람 사는 게 중하냐?”


“나두 거기 학교 성적이 달린 거야.

 너이 집 집안 살림을 내가 알게 뭐냐?” 


“뭐 인마?  그래서 남의 참외밭을 결딴 내는 거냐?

 나빈 우리집 참외밭에만 있구, 다른 덴 없어?”



Cerpen “Ayah Penangkap Kupu-Kupu” menceritakan tentang isu kelas sosial di daerah pedesaan dari sudut pandang seorang anak. Ayah Gyeong-hwan bekerja sebagai pengawas lahan pertanian, sedangkan ayah Ba-u adalah seorang petani penyewa. Sebagai pengawas lahan, ayah Gyeong-hwan berhak menentukan kepada siapa lahannya disewakan. Karena itu Gyeong-hwan menganggap ladang melon itu miliknya, sementara Ba-u menganggap melon itu milik keluarganya. 



Ba-u menuruni gunung itu dan menaiki bukit seberang. Ia pun berjalan, semakin mendekati ladang sorgum itu. Ba-u sangat terkejut dengan apa yang ia lihat hingga mulutnya ternganga. 

Ternyata, sosok pria yang Ba-u kira adalah pelayan rumah Gyeong-hwan ternyata adalah ayahnya sendiri.

Ayah Ba-u melepas topinya dan berulang-ulang berdiri dan menunduk, mengejar kupu-kupu. Pria paruh baya itu berputar-putar mengelilingi ladang itu dengan langkah tergopoh-gopoh.


Ba-u berdiri terpaku, seakan-akan kepalanya telah terhantam oleh sesuatu. Tiba-tiba tanah pasir bukit itu bergerak, dan Ba-u pun turun menyelusuri bukit itu. 

Bau merasa kasihan yang bercampur dengan rasa sayang pada sang ayah. Ba-u sanggup melakukan apa pun demi sang ayah. Sambil menahan tangis, Ba-u berteriak ke arah ladang sorgum.

    

“Ayah! Ayah! Ayah!”


바우는 산을 내려와 맞은 편 언덕 위로 올라섰다.

그리고 가까운 거리에서 메밀밭을 내려다 보았을 때  

그는 놀라 벌린 입을 다물지 못했다.     

        

경환이 집 머슴으로 본 사람은 남 아닌 바로 자기 아버지였다.

아버지는 모자를 벗어 들고 나비를 쫓아 엎드렸다 일어섰다 하며

그 똑똑지 못한 걸음으로 밭두덩을 지척지척 돌고 있다.


바우는 머리를 얻어맞은 듯 멍하니 아래를 바라보고 섰다.

그러다가 갑자기 언덕 모래 비탈을 지르르 미끄러져 내려갔다.


아버지가 무척 불쌍하고 정답고 

아버지를 위하여서는 어떠한 어려운 일이든지 못할 것이 없을 것 같았다.

바우는 울음이 터져 나오려는 마음을 가슴 가득히 참으며

언덕 아래 메밀밭을 향해 소리쳤다.


“아버지.  아버지.  아버지”




Hyeon Deok (lahir di Seoul, 1909)

    - Debut: Novel “Kura-Kura Darat” (1938)

Pilihan Editor

Close

Situs kami menggunakan cookie dan teknologi lainnya untuk memberikan Anda layanan yang lebih baik. Dengan terus menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan teknologi ini dan kebijakan kami. Detail >