Pergi ke Menu Pergi ke Halaman Utama
Go Top

Budaya

Pengkhiatan di Musim Panas – Park Wan-suh

#Sudut Sastra Korea l 2022-10-14

Sudut Sastra Korea

ⓒ Getty Images Bank

Di luar pintu otomatis itu, mobil sedan datang dan pergi silih berganti. Pria-pria yang menyerupai tikus, yang tidak akan basah walau terguyur hujan deras dan hujan badai turun dari mobil-mobil itu. Sosok mereka sangat berbeda dengan ayah. Namun, setiap kali mereka lewat, ayah selalu memberi hormat secara berlebihan.   


Seragam ayah yang sangat gagak dan mencolok itu terlihat seperti kostum badut yang diciptakan untuk memuaskan kompleks superioritas para pria tikus itu. 

    

Baru di saat itulah aku membaca tulisan di atas jendela kaca ruang kerja ayah, “Pos Keamanan.”      


- Cuplikan program:



“Dalam kata pengantar bukunya, ‘Pemuda, Milikilah Ambisi!’ Profesor Jeon menulis tentang tiga hasrat yang menjadi pedoman hidupnya. Hasrat itu adalah cinta, pengetahuan dan belas kasih untuk mereka yang lemah dan membutuhkan, mereka yang menderita dan tertekan. Kalimat itu selalu membuat hatiku membara dan patut menjadi pedomanku hingga aku mati nanti.”    


“Bagaimana kamu bisa konsentrasi belajar jika kamarmu penuh ditempeli foto-foto seperti ini?”


“Ayah, foto-foto ini bukan foto artis... Dia adalah...”


“Penulis Jeon Gu-ra itu, kan? Ya, dia pernah memohon-mohon ampun di kaki ayah, meminta ayah untuk menyelamatkan nyawanya.”


“I.. itu tidak mungkin, lah, ayah. Mungkin ayah salah orang.”


“jangan memotong perkataanku dan dengarkan perkataan ayah...”    


그는 <청소년이여, 야망을 가져라>의 서두에서

그의 생애를 지배해 온 세 가지의 정열에 대해 말하고 있다.

그것은 사랑에 대한 동경과 지식의 탐구,

고통받고 박해받는 약하고 가난한 이웃들에 대한 참을 수 없을 연민이라는 거였다.

그 대목은 늘 내 정결한 피를 끓게 했다.

그것이야말로 사람이 죽는 날까지 정열을 바칠 가치가 있는 것이었다. 


“신성한 공부방에 저따위 사진을 붙여놓고 공부가 될 성 싶으냐?”


“아버지, 이 분은 딴따라가 아녜요. 이 분은...” 


“그 작자 전구라 아니냐?

 한땐 그 작자가 아버지 발밑에 엎드려 살려달라고 싹싹 빈 적이 있었지”


“그, 그럴 리가요, 아버진 뭔가 잘못 알고 계신 겁니다.”


“인석아, 서둘지 말고 남의 말 좀 들어봐.”



Dari buku-buku yang telah ia tulis dan terbitkan, Inseok menilai bahwa Jeon Gu-ra adalah pria yang hebat. Karena itu, ia menjadikan pria, yang kebaikan hatinya terungkap melalui kata-kata dalam bukunya itu, sebagai panutan hidupnya. Ternyata, dalam kehidupan nyata, pria idolanya itu adalah seorang pria yang suka menerobos antrean dan memanfaatkan struktur dan kelas sosial untuk menindas orang lain yang dinilai lebih rendah darinya. Bayangkan, betapa terkejutnya Inseok saat ia mendengar cerita sang ayah? Apalagi Inseok, sebagai seorang remaja, sedang bersiap-siap untuk mengambil langkah pertama menjadi pria dewasa.    



Saat ayah melemparku ke dalam kolam renang, aku hanya menggelepar sesaat sebelum akhirnya aku dapat berdiri. Saat ayah menghancurkan sosok idolaku dan mendorongku keluar dari pintu otomatis itu, aku butuh waktu yang lebih lama untuk menggelepar sebelum dapat berdiri kembali. Kali ini, aku pasti akan membutuhkan waktu yang lebih lama lagi untuk menggelepar dan mencari tempat untuk berdiri.


Mungkin, martabat dan harga diri yang selama ini kucari di luar, tidak akan pernah kutemukan selama aku tidak mencarinya dalam diriku sendiri. Aku hanya akan terus menggelepar hingga saat itu tiba.


Aku sendiri yang harus membangun martabat itu. Ah, aku membayangkan, betapa sulitnya pekerjaan itu. Aku sendirian. Suara tawa ayah membuat kesendirian itu terasa semakin dalam.


아버지가 나를 풀 속으로 팽개쳤을 때 

허우적대다 땅바닥을 딛기까지는 순식간이었고,

아버지가 자신의 우상을 스스로 깨뜨리고 나를 자동문 밖으로 팽개쳤을 때

허우적대다가 설 자리를 찾기까지는 꽤 오랜 시간이 걸렸었다.


그러나 지금의 이 허우적거림에서 설자리를 찾고

바로 서기까지는 좀 더 오랜 시일이 걸릴 것 같다.


어쩌면 내가 외부에서 찾던 진정한 늠름함, 진정한 남아다움을

앞으론 내 내부에서 키우지 않는 한

그건 영원히 불가능한 채, 다만 허우적거림만이 있는지도 모르겠다.


내 홀로 늠름해지기란, 아, 그건 얼마나 고되고도 고독한 작업이 될 것인가.

나는 고독했다.

아버지의 낄낄낄이 내 고독을 더욱 모질게 채찍질했다.




Park Wan-suh (20 November 1931 – 22 Januari 2011)

    - lahir di Propinsi Gyeonggi

    - debut: Novel “Pohon Gundul” (1970)

Pilihan Editor

Close

Situs kami menggunakan cookie dan teknologi lainnya untuk memberikan Anda layanan yang lebih baik. Dengan terus menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan teknologi ini dan kebijakan kami. Detail >