Pergi ke Menu Pergi ke Halaman Utama
Go Top

Budaya

Jembatan Batu – Lee Tae-jun

#Sudut Sastra Korea l 2022-10-07

Sudut Sastra Korea

ⓒ Getty Images Bank

Setiap kali ada uang yang tersisa, ayah Chang-seop menggunakannya untuk meluruskan pematang sawahnya, membangun tembok batu di sekelilingnya dan tanggul di sepanjang aliran sungai. Setelah Chang-seop menjadi dokter, ia menggunakan sisa tabungan biaya kuliah putranya yang tersisa untuk meratakan jalan dari desa menuju tempat pemberhentian bus. 

Ayah Chang-seop percaya, bahwa menyewakan tanah kepada orang lain sama artinya dengan membuang tanah tersebut. Ayah Chang-seop tidak membiarkan tanahnya dikerjakan oleh orang lain, kecuali para pekerjanya yang sangat tekun. Ia bahkan menggiring dua ekor kerbau dan mengerjakan lahannya yang luas itu sendiri bersama tiga pekerjanya itu. Dulu ia mendapat banyak cemooh dari warga, bahwa hasil panennya kurang maksimal, atau ketiga pekerjanya hanya mencari untung dan akan pergi meninggalkannya. Namun, jika itu berhubungan dengan tanahnya, ayah Chang-seop tidak pernah memperhitungkan keuntungan dan kerugian. 


- Cuplikan program:



Aku tidak akan menjual tanah ini, bahkan dengan harga mahal sekali pun. Aku menyaksikan langsung dengan mata kepalaku sendiri bagaimana ayahku bekerja keras mengerjakan tanah ini. Kakekku mati-matian mengumpulkan uang untuk membeli tanah ini. Tidak akan ada uang yang dapat membeli sawah dan ladang seperti itu.


Tanah tidak bisa hanya diperjual belikan untuk keuntungan sesaat. Tanpa tanah, tidak akan ada rumah, tidak akan ada negara. 


Tanah adalah dasar dari semua yang ada di dunia ini. Orang-orang yang tidak tahu apa itu tanah dan hanya mengumpulkan tanah untuk disewakan kepada orang lain... Orang-orang yang hanya memikirkan keuntungan bagaikan sebuah permainan, tanpa mengerti betapa pentingnya hubungan antara leluhur dan tanah mereka... Di mataku, mereka semua adalah orang-orang yang hina.


천금이 쏟아진대두 난 땅은 못 팔겠다.

내 아버지께서 손수 이룩허시는 걸 내 눈으로 본 밭이구,

내 할아버님께서 손수 피땀을 흘려 모신 돈으루 장만허신 논들이야.

돈 있다고 어디 그런 논과 밭을 사?

 

땅이란 걸 어떻게 일시 이해를 따져 사구 팔구 허느냐?

땅 없어봐라, 집이 어딨으며, 나라가 어딨는 줄 아니?


땅이란 천지만물의 근거야.

돈 있다구 땅이 뭔지두 모르구 욕심만 내서 문서 쪽으로 사 모기만 하는 사람들,

돈놀이처럼 이자만 생각허구 제 조상들과 그 땅과 어떤 인연이란 건 도무지 생각지 않구 헌신짝 버리듯 하는 사람들 다 내 눈엔 괴이한 사람들루밖엔 뵈지 않드라



Jembatan batu melambangkan kekuatan tanah dan keberlangsungan kehidupan keluarga petani, seperti keluarga Chang-seop yang merawat dan menggarap tanah itu selama beberapa generasi. Ayah Chang-seop percaya bahwa benda yang usang sekalipun dapat diperbaiki kembali dan diwariskan kepada generasi masa depan. Cerita pendek ini diterbitkan di jaman penjajahan Jepang dalam sebuah majalah pro pemerintah Jepang. Apakah yang ada dalam pikiran Lee Tae-jun saat menulis cerita ini? Mungkin melalui cerita ini ada pesan tersembunyi bagi warga Korea, walau saat itu warga tengah mengalami masa sulit, mereka tidak boleh menyerah dan harus tetap berdiri teguh bagaikan jembatan batu kokoh yang tidak akan mudah runtuh.



Sederas apa pun hujan turun, sungai ini tidak akan meluap. Kalaupun sungai ini meluap, itu bukan dikarenakan hujan. Mungkin ada bebatuan menyumbat lubang-lubang air, atau tidak, ada batu yang tergiling karena terbawa oleh arus. Bila kita rajin membersihkan dasar sungai dan merawat batu penyangganya, jembatan ini dapat bertahan hingga puluh ribuan tahun. Kita harus selalu menjaganya. Kita tidak lengah sekali pun, selama manusia masih hidup di bawah langit biru ini. 


비가 아무리 쏟아져도 어떤 한정을 넘는 법은 없다.

물이 분수없이 늘어 떠내려갔던 게 아니라

자갈이 밀려 내려와 물구멍이 좁아졌든지,

그렇지 않으면, 어느 받침돌의 밑이 물살에 궁글러 쓰러졌던 그런 까닭일 게다.

미리 바닥을 치고 미리 받침돌만 제대로 보살펴 준다면

만년을 간들 무너질 리 없을 게다.

그저 늘 보살펴야 허는 거다.

사람이란 하눌 밑에 사는 날까진 하루라도 천리에 방심을 해선 안 되는 거다.




Lee Tae-jun (lahir di Cheolwon-gun, Propinsi Gangwon, 4 November 1904)

    - Debut: “Omongnyeo” (1925)

Pilihan Editor

Close

Situs kami menggunakan cookie dan teknologi lainnya untuk memberikan Anda layanan yang lebih baik. Dengan terus menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan teknologi ini dan kebijakan kami. Detail >